Blog

  • Waka Polsek Pancoran Ajak Warga Duren Tiga Aktifkan Siskamling Lewat “Jaga Jakarta On The Spot”

    Jakarta Selatan – Waka Polsek Pancoran AKP Pulung Wahyu Umboro memimpin kegiatan Jaga Jakarta On The Spot dan Cooling System bersama warga di Jl. Duren Tiga Selatan RT 013/02, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Senin (3/8/2026) malam.

    Kegiatan yang dihadiri jajaran Polsek Pancoran, pengurus RT/RW, LMK, kader, dan warga setempat ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

    Dalam sambutannya, AKP Pulung Wahyu Umboro menyampaikan bahwa situasi kamtibmas di wilayah Pancoran secara umum masih aman dan kondusif, meski warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tindak pencurian kendaraan bermotor. Ia mengajak masyarakat untuk kembali mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (Siskamling), menggunakan kunci ganda pada kendaraan, serta bersama-sama mencegah aksi tawuran remaja.

    Selain itu, warga juga diberikan edukasi mengenai bahaya judi online dan pinjaman online yang dapat merugikan masyarakat. AKP Pulung turut mengingatkan agar masyarakat segera menghubungi Bhabinkamtibmas, Polsek Pancoran, atau Call Center 110 apabila menemukan gangguan kamtibmas yang memerlukan kehadiran polisi.

    Melalui kegiatan ini, Polsek Pancoran berharap kemitraan antara Polri dan masyarakat semakin kuat sehingga tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif.

  • PATROLI KRYD BERSAMA 3 PILAR, POLSEK KEBAYORAN LAMA JAGA KAMTIBMAS HINGGA PAGI

    Jakarta Selatan – Polsek Kebayoran Lama Polres Metro Jakarta Selatan menggelar Patroli Operasi Cipta Kondisi bersama 3 pilar dan Pokdarkamtibmas pada Senin dini hari, 03 Agustus 2026 pukul 00.15 WIB.

    Kegiatan dipimpin Pawas AKP Tasyuri, S.H. dan dikendalikan Kapolsek Kompol S. Aba Wahid Key, http://S.Sos., M.H. dengan kekuatan 14 personil gabungan Polsek, Satpol PP dan FKPM. Apel dilaksanakan di Halaman Polsek Kebayoran Lama, Jl. Praja I, Kel. Kebayoran Lama Selatan.

    Sasaran patroli meliputi tempat hiburan malam, cafe, bar dan restaurant, lokasi rawan berkumpul miras, balap liar, tawuran, serta kejahatan 3C: Curat, Curas dan Curanmor.

    Rute patroli mobile blue light menyasar wilayah Pondok Indah, Pondok Pinang, Tanah Kusir, Pasar Kebayoran Lama, Cipulir, Cidodol, Permata Hijau hingga Patung Senayan. Rute meliputi Jl. Ciputat Raya, Jl. Iskandar Muda, Jl. Metro Pondok Indah, Jl. RA Kartini, Jl. Panjang, dan Bundaran Pondok Indah.

    Hasilnya, petugas membubarkan dan menggeledah anak muda yang masih nongkrong di pinggir jalan secara persuasif. Petugas juga berkoordinasi dengan RT/RW, security dan petugas jaga malam, serta menempatkan mobil patroli di titik rawan.

  • BHABINKAMTIBMAS KEL. PENGANDEGAN LAKSANAKAN COOLING SYSTEM DAN DDS DI RT 07/04 

    Jakarta Selatan – Bhabinkamtibmas Kelurahan Pengadegan Aiptu Jhony Eliyanto kembali melaksanakan kegiatan cooling system, sambang Door to Door System / DDS dan silaturahmi kepada warga. Giat ini dilakukan untuk mempererat kemitraan dan menjaga kondusifitas wilayah.

    Kegiatan berlangsung Sabtu (01/08/2026) pukul 12.45 WIB s/d selesai di Jl. Pengadegan Selatan Raya RT 07/04, Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

    Dalam kegiatan tersebut Aiptu Jhony Eliyanto bersilaturahmi dengan: 

    1. Bp. Awi selaku Ketua RT 07 

    2. Sdr. Dani selaku Pemuda Karang Taruna RW 04 

    3. Sdr. Rasya selaku Pemuda Karang Taruna RW 04 

    Pada kesempatan itu Bhabinkamtibmas menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada tokoh masyarakat dan pemuda agar bersama-sama menjaga lingkungan dari potensi gangguan seperti tawuran, kejahatan jalanan, begal, curanmor dan peredaran narkoba.

    Bhabinkamtibmas juga menginformasikan layanan Polisi Call Center 110 bebas pulsa yang dapat dihubungi 24 jam apabila membutuhkan bantuan polisi.

    “Dengan sambang langsung ke warga dan pemuda, kita harapkan informasi kamtibmas cepat tersampaikan. Mari kita jaga bersama Kelurahan Pengadegan agar tetap aman dan kondusif,” ujar Aiptu Jhony.

  • Polri Pastikan Situasi Keamanan Pusat-Pusat Ekonomi Nasional Tetap Kondusif

    Jakarta – Polri memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di berbagai pusat kegiatan ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali. Kepastian tersebut disampaikan seiring meningkatnya perhatian publik terhadap penguatan sistem pengamanan di sejumlah kawasan bisnis, pusat perbelanjaan, kawasan industri, dan objek vital nasional di Jakarta maupun daerah lainnya.

    Kadivhumas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa Polri terus mengedepankan langkah-langkah preventif guna memastikan aktivitas masyarakat dan roda perekonomian nasional berjalan dengan baik.

    “Polri terus melaksanakan patroli rutin, penguatan kegiatan intelijen, deteksi dini, pengamanan objek vital nasional, patroli siber, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya. Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusif,” ujar Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir di Jakarta, Senin (3/8/2026).

    Langkah antisipatif tersebut dilakukan secara berlapis dengan melibatkan seluruh satuan kewilayahan, mulai dari tingkat Mabes Polri, polda, polres, hingga polsek. Pengamanan difokuskan pada kawasan strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

    Selain itu, Polri juga terus melakukan pemantauan secara real time melalui berbagai sistem yang dimiliki, termasuk Daily Operational Reporting System (DORS) yang menjadi sarana pemantauan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat dari seluruh wilayah Indonesia.

    Berdasarkan data DORS, situasi keamanan secara umum berada dalam kondisi terkendali dan tidak ditemukan adanya kejadian menonjol yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional maupun aktivitas perekonomian masyarakat.

    “Data yang kami peroleh melalui DORS menunjukkan bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat hingga saat ini masih terkendali. Tidak terdapat kejadian menonjol yang berdampak terhadap stabilitas keamanan secara nasional. Seluruh personel di lapangan juga terus melaksanakan langkah-langkah pencegahan secara maksimal,” kata Johnny.

    Menurutnya, peningkatan pengamanan yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan maupun pengelola kawasan usaha merupakan langkah antisipatif yang lazim dilakukan untuk memastikan keselamatan pekerja, perlindungan aset, dan kelancaran operasional perusahaan.

    Polri juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum terverifikasi, terutama narasi yang berpotensi menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

    “Pengalaman dari berbagai peristiwa pada masa lalu menjadi pelajaran bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini. Oleh karena itu, kami memastikan bahwa setiap potensi gangguan akan ditangani secara cepat, tepat, dan profesional sehingga situasi yang kondusif dapat terus terjaga,” ujarnya.

    Polri menegaskan bahwa negara hadir untuk menjamin rasa aman bagi seluruh masyarakat. Dengan kesiapan personel, dukungan teknologi, serta koordinasi yang terus diperkuat dengan berbagai pihak, masyarakat diharapkan dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    “Masyarakat tidak perlu merasa khawatir. Polri akan terus bekerja untuk menjaga keamanan dan memastikan seluruh aktivitas masyarakat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” tutup Johnny.

  • POLDA METRO JAYA MENGGAGALKAN SINDIKAT PENGEDAR TEMBAKAU SINTETIS SEBERAT 995 GRAM DISEBUAH DIPEMUKIMAN PADAT YANG DIEDARKAN MELALUI MEDIA SOSIAL

    Jakarta – Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya kembali berhasil mengungkap jaringan peredaran narkotika jenis tembakau sintetis. Dalam operasi yang dilakukan, Polisi mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran tembakau sintetis dan menyita barang bukti dengan total berat bruto sekitar 995 gram.

    Pengungkapan bermula dari informasi masyarakat terkait dugaan aktivitas peredaran tembakau sintetis di sebuah rumah kontrakan yang berada di kawasan pemukiman padat di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim melakukan penyelidikan dan pengamatan hingga akhirnya berhasil mengamankan seorang pria berinisial R. (27) di lokasi.

    Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah paket tembakau sintetis yang disimpan di dalam tas selempang dan kantong plastik. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pelaku mengaku barang tersebut dititipkan oleh W. (28) untuk didistribusikan kepada para pemesan.

    Pengembangan penyelidikan kemudian mengarah kepada dua pelaku lainnya, yakni R. (26) dan M. (21). Keempat pelaku diduga memiliki peran berbeda dalam jaringan tersebut, mulai dari pengendali distribusi hingga pembagian wilayah pemasaran di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Selain mengamankan para pelaku, polisi juga melakukan penggeledahan di beberapa lokasi lain di wilayah Jakarta Timur. Dari lokasi-lokasi tersebut, petugas menemukan berbagai barang bukti pendukung berupa ratusan paket tembakau sintetis siap edar, bahan dan peralatan produksi, timbangan digital, plastik kemasan, lakban, jeriken berisi cairan yang diduga digunakan dalam proses pembuatan, serta beberapa unit telepon genggam yang diduga digunakan sebagai sarana komunikasi dalam transaksi narkotika.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, jaringan tersebut menjalankan modus operandi dengan memasarkan tembakau sintetis menggunakan sistem mapping, yakni meletakkan barang pesanan di titik tertentu sesuai arahan yang diberikan kepada pembeli melalui media sosial.

    Kasubdit 1 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Kompol Indah Hartantiningrum, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan, “ Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya telah membongkar jaringan sindikat peredaran gelap narkotika golongan satu jenis tembakau sintetis. Melalui investigasi digital, aparat telah berhasil mengamankan Empat orang tersangka di empat lokasi yang berbeda yang berada di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Memanfaatkan rumah kontrakan di kawasan padat penduduk untuk menyamarkan aktivitas penjualan hasil produksi. Dari hasil penggeledahan telah diamankan barang bukti tembakau sintetis yang telah dikemas siap edar dengan berat bruto 995 Gram,  vegetasi herbal 850 Gram,  prekursor, timbangan digital, alat masak, masker produksi, perangkat komunikasi yang terdapat jejak digital pemesanan bahan baku kimia, serta barang bukti lainnya yang berkaitan dengan tindak pidana”.

    Selanjutnya tersangka dan barang bukti telah kami bawa ke kantor Ditresnarkoba Polda Metro Jaya guna kepentingan pentidikan lebih lanjut.

  • Wakapolri: Bergabungnya Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo ke UBISA Perkuat Jejaring Nasional Pusat Studi Kepolisian

    Jakarta, 3 Agustus 2026 – Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si., yang juga menjabat sebagai Kasatgas Pembentukan Pusat Studi Kepolisian STIK-PTIK Lemdiklat Polri, resmi bergabung sebagai bagian dari sivitas akademika Universitas Bima Sakapenta (UBISA), Senin (3/8/2026).

    Bergabungnya salah satu penggerak pengembangan Pusat Studi Kepolisian tersebut mendapat apresiasi dari Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M. Menurutnya, kehadiran Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo di UBISA bukan hanya bentuk kepedulian terhadap pendidikan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi Polri dengan perguruan tinggi.

    “Saya mengucapkan selamat kepada Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo atas bergabungnya di Universitas Bima Sakapenta. Kehadiran beliau akan semakin memperkuat kolaborasi antara Polri dan dunia pendidikan tinggi serta memperluas jejaring Pusat Studi Kepolisian yang terus kita bangun bersama perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia,” ujar Wakapolri.

    Wakapolri mengatakan, Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo melalui perannya sebagai Kasatgas Pembentukan Pusat Studi Kepolisian telah menjadi salah satu motor penggerak dalam membangun jejaring akademik Polri. Hingga saat ini, pembentukan Pusat Studi Kepolisian telah didorong di 79 perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) di berbagai daerah di Indonesia.

    Dari jumlah tersebut, 40 Pusat Studi Kepolisian telah beroperasi, 5 dalam tahap penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan 34 lainnya dalam proses menuju pembentukan dan kerja sama.

    “Ini bukan sekadar soal jumlah. Yang lebih penting adalah bagaimana Pusat Studi Kepolisian menjadi ruang bertemunya pengalaman praktis kepolisian dengan kekuatan akademik kampus. Dari sana kita ingin lahir riset, inovasi dan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat menjawab persoalan keamanan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat,” kata Wakapolri.

    Menurut Wakapolri, jejaring tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Police Science yang semakin terbuka dan kolaboratif. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi mitra pendidikan, tetapi juga menjadi mitra strategis Polri dalam mengembangkan evidence-based policing dan menjawab tantangan keamanan yang semakin kompleks di era digital.

    Sementara itu, Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo mengatakan keputusannya bergabung dengan UBISA dilandasi semangat untuk ikut mendukung perguruan tinggi yang sedang tumbuh dan berkembang.

    “Mendukung perguruan tinggi yang sedang bertumbuh bukan sekadar membantu sebuah institusi, melainkan ikut menanam benih masa depan bangsa. Perguruan tinggi merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban. Di dalamnya lahir sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, inovasi, dan berbagai solusi bagi persoalan bangsa,” ujar Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo.

    Menurutnya, perguruan tinggi besar tidak lahir dalam waktu singkat. Dibutuhkan gotong royong, kepercayaan masyarakat, dedikasi para pendidik, dukungan pemerintah, serta kontribusi alumni dan mitra strategis agar sebuah kampus dapat tumbuh menjadi pusat keunggulan.

    Kehadiran Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo di UBISA diterima langsung oleh Ketua Yayasan Khafdilah, S.Kom., S.H., M.H., Sekretaris Yayasan Maylane Boni Abdillah, Rektor UBISA Drs. Agus Supriyadi, M.T., Wakil Rektor II Dra. Surtiati, M.Pd., jajaran Program Studi Hukum, serta sivitas akademika UBISA.

    Rektor UBISA Drs. Agus Supriyadi, M.T. menyambut kehadiran Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo dan berharap pengalaman serta jejaring akademiknya dapat memberikan energi baru bagi perkembangan universitas.

    “Selamat bergabung di Universitas Bima Sakapenta. Semoga kehadiran beliau menginspirasi sekaligus memperkuat langkah UBISA dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, berbudi luhur, dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” ujar Rektor UBISA.

    Dengan semangat “Mlesat Mabur Duwur, Nggayuh Adab Luhur”, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem akademik UBISA, tetapi juga membuka ruang yang semakin luas bagi sinergi perguruan tinggi dengan Polri.

    Bagi Polri, berkembangnya jejaring Pusat Studi Kepolisian di berbagai kampus menjadi investasi jangka panjang untuk membangun kepolisian yang semakin berbasis ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.

    “Polri masa depan harus semakin dekat dengan ilmu pengetahuan. Kampus adalah mitra strategis kita. Semakin kuat kolaborasi Polri dan perguruan tinggi, semakin kuat pula fondasi transformasi Polri untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkas Wakapolri.

  • TIM PREVENTIVE STRIKE PMJ SEBAGAI BENTENG DEMOKRASI DAN PERWUJUDAN POLRI PRESISI

    (Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB)

    Jakarta, 3 Agustus 2026 – Pembentukan Tim Preventive Strike Polda Metro Jaya merupakan langkah strategis untuk menjaga demokrasi dari pembajakan, kekerasan, penyusup dan provokator, serta memastikan masyarakat tidak menjadi korban.

    Tim tersebut tidak boleh dipelintir sebagai alat untuk membungkam kritik atau menyerang kebebasan menyampaikan pendapat.

    Sasaran utama Preventive Strike bukan orasi, poster, tuntutan politik, maupun demonstrasi damai, tetapi tindakan konkret yang mengarah pada penyerangan, pembakaran, penjarahan, perusakan fasilitas publik, penggunaan senjata berbahaya, dan kekerasan terhadap masyarakat maupun aparat.

    Demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan berbicara, tapi juga keamanan agar kebebasan tersebut dapat dijalankan tanpa rasa takut, tanpa intimidasi, dan tanpa ancaman dari kelompok yang sengaja menjadikan kerumunan sebagai kamuflase tindak pidana.

    Karena itu, Tim Preventive Strike harus dilihat sebagai benteng yang berdiri di antara demonstran damai dan kelompok perusuh.

    Ketika polisi mampu memisahkan keduanya secara cepat dan akurat, aspirasi masyarakat tetap dapat disampaikan, sementara pelaku kekerasan kehilangan ruang untuk bersembunyi di balik massa.

    Polri tidak boleh dipaksa menunggu batu pertama dilemparkan, kendaraan pertama dibakar, toko pertama dijarah, atau korban pertama berjatuhan sebelum diperbolehkan bertindak. Negara yang bertanggung jawab tidak menunggu tragedi untuk memperoleh alasan melindungi rakyat.

    Jika indikator ancaman telah terdeteksi secara objektif, Polda Metro Jaya mempunyai kewajiban untuk melakukan mitigasi, patroli, pengamanan objek vital, komunikasi dengan koordinator aksi, pengaturan lalu lintas, pemetaan kelompok berisiko, serta penindakan hukum secara terukur terhadap individu yang terbukti merencanakan atau melakukan kekerasan.

    Membiarkan ancaman berkembang hanya karena khawatir dituduh represif merupakan bentuk kelalaian. Ketika kerusuhan benar-benar terjadi, pihak yang paling cepat menanggung kerugian bukan elite politik, tetapi rakyat kecil yang menggantungkan hidup pada aktivitas harian.

    Pedagang kehilangan pembeli. Pengemudi kehilangan penumpang. Karyawan tidak dapat bekerja. Pelajar terhambat pulang. Ambulans terjebak. Transportasi publik terganggu. Fasilitas umum yang dibangun dari uang rakyat dapat rusak hanya dalam hitungan menit.

    Melindungi pusat perbelanjaan, stasiun, terminal, jalan utama, kawasan perkantoran, objek vital, dan fasilitas publik bukan bentuk keberpihakan kepada pemilik modal.

    Di dalam ruang-ruang tersebut terdapat jutaan warga biasa yang mempunyai hak untuk bekerja, bergerak, memperoleh pelayanan, dan pulang dengan selamat.

    Tim Preventive Strike juga menjadi jawaban atas standar ganda yang selama ini diarahkan kepada Polri.

    Ketika polisi bersiap sebelum terjadi kerusuhan, polisi dituduh berlebihan. Ketika kerusuhan pecah, polisi dituduh gagal mengantisipasi. Ketika personel dikerahkan, polisi dianggap mengintimidasi. Ketika pengamanan lemah dan fasilitas dibakar, polisi kembali dipersalahkan.

    Standar ganda semacam itu harus dihentikan. Polri tidak dapat terus ditempatkan dalam posisi di mana setiap tindakan dianggap salah, sementara kelompok yang menyiapkan kekerasan terbebas dari sorotan dan tanggung jawab.

    Ukuran tertinggi keberhasilan polisi adalah tragedi yang berhasil dicegah, korban yang tidak pernah jatuh, fasilitas yang tidak pernah terbakar, dan masyarakat yang tetap dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman.

    Tidak terjadinya kerusuhan bukan bukti bahwa kesiapsiagaan polisi berlebihan, melainkan menjadi bukti bahwa deteksi dini, patroli, komunikasi, pengamanan, dan pencegahan bekerja sebagaimana mestinya.

    Preventive Strike juga mencerminkan pendekatan Polri Presisi yang prediktif. Polisi tidak hanya bereaksi terhadap kejahatan yang telah selesai dilakukan, tetapi membaca pola, mendeteksi potensi ancaman, mengendalikan eskalasi, dan memutus rangkaian kekerasan sebelum menghasilkan kerugian yang lebih besar.

    Pendekatan prediktif tersebut harus dijalankan dengan disiplin hukum. Kritik tidak boleh dikategorikan sebagai ancaman. Ajakan demonstrasi damai tidak boleh diperlakukan sebagai tindak pidana. Penindakan harus didasarkan pada perbuatan konkret, bukti yang sah, dan indikator kekerasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Polda Metro Jaya juga perlu memastikan bahwa setiap operasi Preventive Strike berada dalam satu komando yang jelas, dilengkapi dokumentasi, pengawasan internal, penggunaan kamera lapangan, pencatatan penggunaan kekuatan, serta evaluasi pascaoperasi.

    Langkah tersebut penting untuk melindungi dua pihak sekaligus: masyarakat dari kemungkinan penyalahgunaan kewenangan dan anggota kepolisian dari tuduhan yang tidak sesuai fakta.

    Ketegasan dan akuntabilitas bukan dua prinsip yang saling meniadakan. Ketegasan diperlukan agar negara tidak kalah oleh perusuh. Akuntabilitas diperlukan agar kekuatan negara tetap berada dalam batas hukum.

    Massa damai harus diberi ruang, dilindungi, dan difasilitasi. Koordinator aksi harus diajak berkomunikasi. Jalur darurat harus dijaga. Jurnalis, tenaga medis, pendamping hukum, dan masyarakat sekitar harus memperoleh perlindungan.

    Namun terhadap pelaku yang membawa bom molotov, senjata tajam, alat perusak, atau secara nyata menyerang masyarakat dan petugas, negara tidak boleh ragu.

    Kebebasan menyampaikan pendapat tidak pernah mencakup kebebasan membakar, menjarah, menyerang, dan menghancurkan.

    Mereka yang menolak pembentukan Tim Preventive Strike harus menjelaskan alternatif yang mereka tawarkan. Apakah polisi harus menunggu Jakarta terbakar terlebih dahulu? Apakah rakyat harus menjadi korban sebelum pencegahan dianggap sah? Apakah pelaku kekerasan harus diberi waktu untuk menyelesaikan aksinya agar polisi tidak dituduh represif?

    Demokrasi tidak akan terlindungi dengan membiarkan perusuh menguasai jalan. Demokrasi akan terlindungi ketika demonstran damai dapat menyampaikan aspirasi tanpa dibajak oleh kelompok yang mengejar kekacauan.

    Tim Preventive Strike Polda Metro Jaya karena itu harus ditempatkan sebagai benteng demokrasi: melindungi kritik, menjaga keselamatan rakyat, memisahkan massa damai dari pelaku kekerasan, dan memastikan kebebasan tidak berubah menjadi kedok kriminalitas.

    Demonstrasi harus dilindungi. Kritik harus dijamin. Kekerasan harus dipatahkan.

    Tim Preventive Strike adalah pesan tegas bahwa demokrasi akan dijaga, rakyat akan dilindungi, dan tidak seorang pun boleh menggunakan kebebasan sebagai lisensi untuk menciptakan kehancuran.

  • Polda Metro Jaya Gelar Apel Kesiapan Personel dan Peralatan Penanganan Bencana

    Jakarta – Polda Metro Jaya menggelar Apel Kesiapan Personel dan Peralatan dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Bencana di Lapangan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Senin (3/8/2026). Apel dipimpin Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Dekananto Eko Purwono sebagai upaya memastikan kesiapan personel, peralatan, dan koordinasi dalam menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

    Apel diikuti 233 personel, terdiri dari 80 personel Satuan Brimob Daerah (Satbrimobda) Polda Metro Jaya, 100 personel Direktorat Samapta (75 personel satu kompi Dalmas dan 25 personel Tim SAR), 50 personel Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud), serta 3 personel Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes). Sejumlah sarana dan prasarana penanggulangan bencana juga diperiksa, di antaranya kendaraan Armoured Water Cannon (AWC), mobil SAR, perahu karet, alat pemadam api ringan (APAR), ambulans, alat komunikasi, serta perlengkapan pendukung lainnya guna memastikan seluruhnya dalam kondisi siap operasional.

    Dalam arahannya, Wakapolda Metro Jaya mengajak seluruh personel meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya banjir, kebakaran, dan kekeringan. Menurutnya, kesiapsiagaan harus diawali dengan pemetaan wilayah rawan bersama seluruh pemangku kepentingan, meliputi daerah rawan banjir, kekeringan, krisis air bersih, titik rawan kebakaran, tempat pembuangan akhir (TPA), hingga sumber-sumber air cadangan yang dapat dimanfaatkan saat keadaan darurat.

    Brigjen Pol. Dekananto juga menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi dan sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, BPBD, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Basarnas, serta instansi terkait lainnya agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu. Seluruh personel diminta selalu menjaga kesiapan, memastikan peralatan dalam kondisi baik, serta mengutamakan keselamatan petugas maupun masyarakat dalam setiap pelaksanaan tugas.

    Selain kesiapsiagaan personel dan peralatan, Brigjen Pol. Dekananto menekankan pentingnya meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai penghematan air dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Di sisi lain, jajaran kepolisian diminta melakukan penegakan hukum secara tegas terhadap setiap bentuk kelalaian maupun tindakan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran.

    “Keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari kemampuan saat merespons kejadian, tetapi juga dari upaya mencegah terjadinya bencana dan kecepatan memberikan pertolongan kepada masyarakat. Karena itu, soliditas, kesiapsiagaan, dan pengabdian seluruh personel harus terus diperkuat,” ujar Brigjen Pol. Dekananto.

    Melalui apel ini, Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kesiapsiagaan personel dan peralatan serta bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna menghadirkan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam melindungi masyarakat dari berbagai potensi bencana.

  • Police Goes to School, Polsek Pesanggrahan Berikan Pembinaan dan Edukasi Kamtibmas kepada Siswa MTSN 43 Jakarta

    Jakarta Selatan — Dalam rangka mendukung program Police Goes to School dan cooling system, jajaran Polsek Pesanggrahan melaksanakan kegiatan pembinaan upacara sekaligus memberikan edukasi kamtibmas kepada para siswa-siswi MTSN 43 Jakarta yang berlokasi di Jalan H. Bina Warga No.6, RT 06/01, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026).

    Kegiatan yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut dipimpin oleh Panit II Binmas Polsek Pesanggrahan, Ipda Dwi Cahyono, S.H., didampingi Bhabinkamtibmas Kelurahan Petukangan Utara, Aiptu Parjono, serta dihadiri oleh Kepala Sekolah MTSN 43 Jakarta, Dra. Laila Nurman Lubis, para guru, staf, dan seluruh siswa-siswi.

    Dalam kesempatan tersebut, Ipda Dwi Cahyono bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan berbagai pesan kamtibmas, khususnya terkait pencegahan kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, serta pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

    Petugas mengimbau para siswa agar tidak terlibat dalam aksi tawuran, perundungan (bullying), merokok, penggunaan vape, konsumsi minuman keras, maupun berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya yang dapat merugikan diri sendiri dan masa depan mereka.

    Selain itu, para siswa juga diberikan sosialisasi mengenai antisipasi tindak kejahatan, pentingnya tertib berlalu lintas, serta ajakan untuk turut menyukseskan program “Jaga Jakarta” yang diinisiasi oleh Kapolda Metro Jaya dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif.

    Dalam kegiatan tersebut, Polsek Pesanggrahan turut memperkenalkan layanan Call Center 110 dan nomor pengaduan Kapolsek Pesanggrahan di 0813-8222-5050 yang dapat dihubungi masyarakat apabila membutuhkan bantuan kepolisian atau ingin menyampaikan informasi terkait gangguan kamtibmas.

    Pihak sekolah menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kunjungan serta perhatian yang diberikan Polsek Pesanggrahan kepada para pelajar. Sekolah juga berharap agar komunikasi dan koordinasi dengan pihak kepolisian dapat terus terjalin demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.

    Melalui program Police Goes to School, Polsek Pesanggrahan berharap dapat mempererat hubungan antara kepolisian dan lingkungan sekolah sekaligus meningkatkan kesadaran para pelajar untuk menjauhi perilaku negatif serta bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

  • Polsek Pancoran Tingkatkan Patroli Preventif, Antisipasi 3C, Narkoba dan Tawuran di Kalibata

    Jakarta Selatan – Polsek Pancoran kembali menggelar Operasi Cipta Kondisi dan Patroli Mobile dini hari untuk mengantisipasi begal, curanmor, narkoba serta tawuran di wilayah hukum Polsek Pancoran.

    Di Pimpin Pawas 2.0 Iptu Nurcholis selaku Kanit Samapta dan dilaksanakan Senin (03/08/2026) pukul 01.00 WIB di Jl. Hj. Tutty Alawiyah, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Kekuatan sebanyak 8 personel Polsek Pancoran.

    Iptu Nurcholis menyampaikan bahwa operasi kali ini menyasar tempat kerumunan masyarakat seperti titik nongkrong yang berpotensi menimbulkan kerawanan.

    “Sudah beberapa kali kita dapat informasi dari masyarakat dan berhasil mencegah tawuran. Selain tawuran, kejahatan 3C yaitu curas, curat dan curanmor juga jadi atensi pimpinan. Mari kita waspada, saling jaga dan saling buddy system. Jangan under estimate terhadap apapun,” tegasnya.

    Sasaran dan Rute Patroli 

    Sasaran operasi meliputi: 

    1. Daerah rawan guantibmas seperti tawuran, curat, curas dan curanmor 

    2. Trotoar yang dijadikan tempat berkumpul/parkiran sepeda motor 

    3. Jalan raya yang dijadikan arena balap liar dan tempat komunitas motor berkumpul 

    Rute patroli mobile meliputi Jl. Pengadegan Barat, Jl. Pengadegan Timur, Jl. Rawajati Timur, Jl. Ps Minggu Raya, Jl. TMPN Kalibata, Jl. Komplek DPR, dan Jl. Duren Tiga Raya. Petugas juga melaksanakan strong point di Jl. Duren Tiga Timur, Kelurahan Duren Tiga.

    Hasil Kegiatan 

    1. Petugas memberikan himbauan kepada para remaja dan pengemudi ojek online di Jl. Pengadegan agar waspada terhadap kejahatan jalanan dan tawuran, serta segera membubarkan diri dan pulang. 

    2. Dilaksanakan razia di Jl. Rawajati Timur Raya. Situasi terpantau aman dan kondusif. 

    3. Diberikan himbauan kepada masyarakat agar berhati-hati saat perjalanan pulang guna mengantisipasi ancaman kejahatan jalanan. 

    4. Tidak ditemukan adanya tindak pidana selama kegiatan berlangsung.

    Kapolsek Pancoran Kompol Mansur S.E., M.M. menegaskan Ops Cipta Kondisi akan terus dilaksanakan secara rutin. Tujuannya untuk menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Kecamatan Pancoran.